Sekolah DJ di tahun 2009

Pada tahun 1995, tidak mudah menemukan sekolah DJ saat itu. Disamping tidak adanya promosi, sekolah dj juga terkesan hanya untuk kalangan sendiri, dalam artian kalangan dunia malam dan keberadaan sekolah dj ini pun hanya disebarkan dari mulut ke mulut. Kalaupun ada yang dipromosikan, tempatnya di jakarta dengan biaya diatas nominal 2 juta rupiah, bandingkan dengan harga Honda Tiger 2000 yang waktu itu harga dealernya sekitar 6 juta rupiah. Sangat mahal dibandingkan saat ini tetapi dengan hasil yang bisa dipastikan sangat bagus dan siap untuk terjun ke event – event besar.

Pada tahun 2005, sepuluh tahun kemudian, mudah untuk menmukan sekolah DJ dan biayanya pun terjangkau. Dicirebon ada sekolah DJ dengan biaya 600 ribu rupiah untuk 21 kali pertemuan. Bandingkan dengan tahun 1995. Mungkin ini dikarenakan banyaknya persaingan antar sekolah DJ yang ada. Apakah hasilnya bagus ? Menurut pengamatan saya, hasilnya tidak ada yang bagus. Bahkan tamatan sekolah DJ dari salah satu sekolah DJ terkenal di Yogyakarta pun hanya satu dua orang yang dapat dikatakan bagus. Bahkan satu sekolah DJ dikota saya tidak dapat menghasilkan lulusan yang baik satupun. Saya tidak sebutkan namanya tapi yang jelas ada tiga tempat dan dari ketiganya hanya dihasilkan satu dua orang lulusan yang pantas dikatakan sebagai DJ.

Baiklah, ini bukan kesalahan siapa – siapa. Dan karena rasa penasaran saya yang tinggi maka saya pun melakukan semacam investigasi dengan menjadi siswa di ketiga tempat tersebut.

Singkat cerita, saya berhasil menyelesaikan pelatihan di ketiga tempat tersebut sesuai waktu yang ditetapkan dan……. saya meraih nilai A di ketiga tempat tersebut. Tentu saja begitu karena saya seorang DJ. Di ketiga tempat ini saya belajar dalam satu kelas bersama beberapa orang teman yang tidak semuanya lulus, bahkan yang dua orang menghilang karena merasa kesulitan mengikuti pelajaran. Tinggal 3 orang tersisa karena kelas berisi 5 orang. Disini saya mendapatkan fakta – fakta penting yang menyebabkan buruknya hasil yang dicapai oleh para siswa. Diantaranya adalah motivasi mengajar dari para tentor yang kurang, motivasi belajar siswa yang kurang tepat, cara mengajar, materi pelajaran dan terakhir kesalahan bagian promosi yang kadang – kadang tidak tahu menahu tentang DJ.

Saya memang belum mempunyai sekolah DJ, tapi saya memiliki beberapa anak didik dan dari sinilah saya tahu bahwa hal terpenting untuk keberhasilan seorang siswa untuk menjadi seorang dj adalah motivasi mengajar dari mentor disamping minat siswanya sendiri. Karena itulah saya tidak heran jika banyak DJ yang berkemampuan sangat baik tapi dia bukanlah lulusan sekolah DJ, melainkan hanya seorang waitress diskotik. Disinilah minat sangat berperan penting.

Karena itulah saya himbau pada rekan – rekan DJ yang juga berprofesi sebagai tentor, marilah kita berikan yang terbaik pada siswa kita, karena dengan itulah kita dapat ikut memajukan dunia DJ diindonesia.

Sebagai catatan kecil :
Di tahun 2009 ini, saya tidak menemukan satupun sekolah DJ ditempat saya tinggal.

Leave a Reply